Sumbar Bersama Mama

Besok libur yah?? #PuraPuraGaTau

Tadi operator di kantor udah mengumumkan kalau besok adalah hari libur dalam rangka Peringatan Kenaikan Yesus Kristus dan Jumat adalah cuti bersama sehingga akan menjadi very long weekend. Very long weekend bagi sy itu kalau liburnya dari hari Senin sampe Minggu,,hahaha.. Pertanyaannya adalah : kemana sy akan menghabiskan liburan itu? Jawabannya adalah : Hmmmppphhh!

Kalau dulu sebelum merid, jauh2 hari sebelum hari H klo bisa udah berburu tiket biar dapet yg murah, plus nambahin libur dgn ngambil beberapa hari cuti. Kalau pun ga pulang ke Siantar, liburan ke Pulau Jawa juga enak sambil lirik2 barang yg bisa dibawa pulang (baca : shopping). Kalu sekarang, sebagai istri yg baik sy selalu mendampingi suami sy saat susah maupun senang, sehat maupun sakit (ini mah janji pernikahan yah! hihihi..). Dan berhubung suami sy ga segampang itu mendapatkan cuti (boro2 cuti, menikmati hari libur seperti pegawai lainnya aja engga.. Ahhh,,tp gpp yah sayang, dinikmati aja yg ada ^-^), sy pun ga bisa berharap banyak untuk berlibur. Jadi, kembali ke pertanyaan tadi, akan kemana kami liburan minggu ini? Jawabannya : Kita liat aja besok sepulang ibadah (Yg terpenting ibadah dulu dlm rangka Kenaikan Kristus), kalau memungkinkan cabut, yah cabut tp sekitaran Sumbar. Klo pun seandainya engga, yah kita liburan jg, tp liburan di kota Padang kucinta dan kubela ini ajaūüėČ

Sebenernya ada beberapa lokasi di Sumbar yang bisa dijadikan tempat berlibur. Duluuuuu, zaman2 sy amsih OJT dan belum punya banyak tanggung jawab di kantor, sy bersama temen2 sy suka keliling Sumbar. Tapi ga enaknya yah itu, klo udah mengunjungi sekali udah males utk mengulang lg. Yg dilihat juga itu2 aja. Tp krn bisanya jg cuma ke situ aja, yah gpp lah yg itu2 aja, krn itu juga cukup menghibur. Itulah itu! (Apa siiiihhh!!!)

Sy jd remind liburan terakhir bersama mama.. Sebelumnya mama udah kami bawa ke Pantai Air Manis dan itu terjadi saat mama, inang dan opung mengunjungi kami berhubung sy baru aja dirawat di rumah sakit hingga menjalani operasi. Jadi, walau sebenernya masih harus banyak beristirahat, sy tetep semangat ke Air Manis saat itu krn ga mungkin sy melewatkan kesempatan jalan2 dengan perempuan2 hebat ini.. Ini lah dia kenangan itu :

Ini sebenernya sy masih harus dipapah saat jalan, tp udah nyampe aja ke sini..ki-ka : Mama, Inang (mertua), saya, opung boru (mamanya mama saya)

Di Pantai Air Manis ini ada Patung Malin Kundang. Pasti udah pada tau kan legenda itu? Iyah, cerita tentang anak yg durhaka sama orang tuanya trus dikutuk jd batu. Kalau Minang punya MalinKundang, Batak punya si Mardan. Jalan ceritanya mirip2 gitu deh. Yg di belakang kami di foto itu adalah Pulau Pisang. Pulau kecil ga berpenghuni. Beberapa suka ke pulau ini klo mau berenang, soalnya air di balik pulau itu lebih bersih. Kalau air lagi surut, laut seolah-olah terbelah, jd kita bisa jalan menuju pulau tp harus balik cepet2 sebelum air pasang lg dan kita bingung bagaimana harus pulang, hehehe.. Sy pernah ke pulau itu, ada juga foto-fotonya tp tinggal di rumah :p

Pada kunjungannya yg kedua ini, kami membawa mama ke Pantai Charoline. Pemandangannya masih mirip2 Pantai Air Manis tp rasanya airnya lebih bersih aja.

Anginnya seru, ngerusak rambut ;p

Hari berikutnya, kami jalan-jalan ke Bukittinggi, kami ke Lobang Jepang.

Paling atas : Kami berpose di pintu masuk Lobang Jepang, Tengah : Di dalam lobang Jepang, Bawah : Naik lagi menuju ke luar.

Bagi mama, Lobang Jepang merupakan tempat yang sangat menakjubkan. Bagi sy juga, dan rasanya orang-orang lain banyak berpikiran sama.

Gua ini letaknya persis disamping Ngarai Sianok, atau di bawah Taman Panorama. Menurut cerita, gua ini direncanakan sebagai markas perang Asia untuk wilayah Sumatra. Namun sebelum semua terjadi, Jepang menyerah pada sekutu dan ditinggalkanlah gua ini.

Lorong masuknya sangat dalam dan panjang. Ada sekitar 128 anak tangga untuk turun ke bawah sebelum akhirnya para pengunjung melewati ruang demi ruang Gua Jepang itu. Semuanya masih dengan jelas dilihat, ada ruang penjara, ruang makan, ruang pengintaian, sampai dengan ruang penyiksaan.

Memang tak begitu rumit bagi yang mengetahui gua ini, tapi buat orang yang belum pernah melintasinya lumayan membingungkan. Saat di dalam, pengunjung tak akan bisa membedakan antara pagi, siang, atau malam. Lorong-lorongnya diberi penerangan lampu. Anehnya gua ini tidak terasa pengap, malah terasa dingin karena sirkulasi udaranya lancar. Ternyata di beberapa lorong langsung menembus keluar ke arah Ngarai Sianok. Dan inilah yang dipakai sebagai lubang pengintaian oleh Jepang dulunya terhadap warga sekitar yang mau melarikan diri.

Di Gua Jepang ini dda 12 barak militer, 12 tempat tidur, 6 buah ruang amunisi, dua ruang makan romusha dan satu ruang sidang. Selain itu ada ruang penyiksaan yang untuk orang-orang yang membangkang. Sekaligus di samping ruang penyiksaan tersebut adalah lubang tempat pembuangan mayat.

“Ini lubangnya, tapi sudah diperkecil dengan semen agar tak berbahaya buat pengunjung sekarang. Kabarnya, dulu, di lubang ini pernah ada orang luar negeri yang jatuh terperosok,” ujarnya pemandu yang menemani rombongan kami.

Gua yang dibangun antara  tahun 1942 hingga 1945 ini memakai tenaga kerja dari berbagai wilayah Indonesia. Atau isitilahnya adalah Romusha, dimana setelah tenaganya diperas, kemudian dibunuh agar orang di luar tidak mengentahui keberadaan goa tersebut.

Selain itu, Di atas gua yang diresmikan sebagai objek wisata pada tanggal 12 Nopember 2004 oleah Walikota Bukittinggi H.Djufri, terdapat Taman Panorama.  Taman ini sangat teduh dengan pohonnya yang besar-besar, enak buat bersantai.

Yang jelas, keberadaan gua ini masih menyisakan tanda Tanya sampai sekarang, berapa jumlah orang yang meninggal, kemudian kemana tanah galian tersebut dibuang..masih menjadi misteri.

(Sumber : http://www.mlancong.com)

Selanjutnya, ga ke Bukittinggi namanya klo ga ke Jam Gadang

Sukaaaa banget liat foto iniūüôā

Jam Gadang adalah landmark kota Bukittinggi dan provinsi Sumatra Barat di Indonesia. Simbol khas Sumatera Barat ini pun memiliki cerita dan keunikan karena usianya yang sudah puluhan tahun. Jam Gadang dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rook Maker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Jam ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur (Sekretaris Kota).

Simbol khas Bukittinggi dan Sumatera Barat ini  memiliki cerita dan keunikan dalam perjalanan sejarahnya. Hal tersebut dapat  ditelusuri dari ornamen pada Jam Gadang. Pada masa penjajahan Belanda, ornamen jam ini berbentuk bulat dan di atasnya berdiri patung ayam jantan.

Pada masa penjajahan Jepang ,  ornamen jam berubah menjadi klenteng. Sedangkan pada masa setelah kemerdekaan,  bentuknya ornamennya kembali berubah dengan bentuk gonjong rumah adat Minangkabau .

Angka-angka pada jam tersebut juga memiliki  keunikan. Angka empat pada angka Romawi biasanya tertulis dengan IV, namun di  Jam Gadang tertera dengan IIII.

Dari menara Jam Gadang, para wisatawan  bisa melihat panorama kota Bukittinggi yang  terdiri dari bukit, lembah dan bangunan berjejer di tengah kota yang sayang untuk dilewatkan.

Saat dibangun biaya seluruhnya mencapai 3.000 Gulden dengan penyesuaian dan renovasi dari waktu ke waktu. Saat jaman Belanda dan pertama kali dibangun atapnya berbentuk bulat dan diatasnya berdiri patung ayam jantan.

Sedangkan saat masa jepang berubah lagi dengan berbentuk klenteng dan ketika Indonesia Merdeka berubah menjadi rumah adat Minangkabau.

Setiap hari ratusan warga berusaha di lokasi Jam Gadang. Ada yang menjadi fotografer amatiran, ada yang berjualan balon, bahkan mencari muatan oto (kendaraan umum) untuk dibawa ke lokasi wisata lainnya di Bukittinggi.

“Jam Gadang ini selalu membawa berkah buat kami yang tiap hari bekerja sebagai tukang foto dan penjual balon di sini. Itu sebabnya jam ini menjadi jam kebesaran warga Minang,” ujar Afrizal, salah seorang tukang potret amatir di sekitar Jam Gadang.

Untuk mencapai lokasi ini, para wisatawan dapat menggunakan jalur darat. Dari kota Padang ke Bukittinggi, perjalanan dapat ditempuh selama lebih kurang 2 jam perjalanan menggunakan angkutan umum. Setelah sampai di kota Bukittinggi, perjalanan bisa dilanjutkan  dengan menggunakan angkutan kota  ke lokasi Jam Gadang.

Lebih Jauh Tentang Jam Gadang:

Sepintas, mungkin tidak ada keanehan pada bangunan jam setinggi 26 meter tersebut. Apalagi jika diperhatikan bentuknya, karena Jam Gadang hanya berwujud bulat dengan diameter 80 sentimeter, di topang basement
dasar seukuran 13 x 4 meter, ibarat sebuah tugu atau monumen. Oleh karena ukuran jam yang lain dari kebiasaan ini, maka sangat cocok dengan sebutan Jam Gadang yang berarti jam besar.

Bahkan tidak ada hal yang aneh ketika melihat angka Romawi di Jam Gadang. Tapi coba lebih teliti lagi pada angka Romawi keempat. Terlihat ada sesuatu yang tampaknya menyimpang dari pakem. Mestinya, menulis angka Romawi empat dengan simbol IV. Tapi di Jam Gadang malah dibuat menjadi angka satu yang berjajar empat buah (IIII). Penulisan yang diluar patron angka romawi tersebut hingga saat ini masih diliputi misteri.

Tapi uniknya, keganjilan pada penulisan angka tersebut malah membuat Jam Gadang menjadi lebih ‚Äúmenantang‚ÄĚ dan menggugah tanda tanya setiap orang yang (kebetulan) mengetahuinya dan memperhatikannya. Bahkan uniknya lagi, kadang muncul pertanyaan apakah ini sebuah patron lama dan kuno atau kesalahan serta atau atau yang
lainnya. Dari beragam informasi ditengah masyarakat, angka empat aneh tersebut ada yang mengartikan sebagai penunjuk jumlah korban yang menjadi tumbal ketika pembangunan. Atau ada pula yang mengartikan, empat orang tukang pekerja bangunan pembuatan Jam Gadang meninggal setelah jam tersebut selesai. Masuk akal juga, karena jam tersebut diantaranya  dibuat dari bahan semen putih dicampur putih telur.

Jika dikaji apabila terdapat kesalahan membuat angka IV, tentu masih ada kemungkinan dari deretan daftar misteri. Tapi setidaknya hal ini tampaknya perlu dikesampingkan.
Sebagai jam hadiah dari Ratu Belanda kepada controleur (sekretaris kota), dan dibuat ahli jam negeri Paman Sam Amerika, kemungkinan kekeliruan sangat kecil. Tapi biarkan saja misteri tersebut dengan berbagai kerahasiaannya.

Namun yang patut diketahui lagi, mesin Jam Gadang diyakini juga hanya ada dua di dunia. Kembarannya tentu saja yang saat ini terpasang di  Big Ben, Inggris. Mesin yang bekerja secara manual tersebut oleh pembuatnya, Forman (seorang bangsawan terkenal) diberi nama Brixlion.

Sekarang balik lagi ke angka Romawi empat, apakah pembuatan angka empat yang aneh itu disengaja oleh pembuatnya, juga tidak ada yang tahu. Tapi yang juga patut dicatat, bahwa Jam Gadang ini peletakan batu pertamanya dilakukan oleh seorang anak berusia enam tahun, putra
pertama Rook Maker yang menjabat controleur Belanda di Bukittinggi ketika itu.

Ketika masih dalam masa penjajahan Belanda, bagian puncak Jam Gadang terpasang dengan megahnya patung seekor ayam jantan. Namun saat Belanda kalah dan terjadi pergantian kolonialis di Indonesia kepada Jepang, bagian atas tersebut diganti dengan bentuk klenteng. Lebih jauh lagi ketika masa kemerdekaan, bagian atas klenteng diturunkan diganti gaya atap bagonjong rumah adat Minangkabau.

Nah,,begitulah liburan terakhir kami yg kalau ga salah itu bulan Maret 2012.. Mudah-mudahan liburan kali ini juga bisa kami manfaatkan dgn sebaik-baiknya supaya bila saatnya ngantor lagi bisa kembali bersemangat (baca : bersemangat menunggu liburan berikutnya lagi :D)
Oh iya,,selamat berlibur yah bagi yg liburan.. Mudah2an liburan kali ini memberi maknaūüôā

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s