Just Like Your Name “Soleha”

IMG_7387

Saya mengenalnya sejak sekitar tahun 2011, di mana saat itu saya sudah menikah dan berbelanja rutin ke pasar demi keselamatan dapur rumah tangga :p

Saya memang lebih suka berbelanja ke pasar tradisional dibanding ke super market karena menurut saya ikan, ayam, daging, sayur, dll lebih segar di pasar. Terlebih ikan, wuihhh rugi banget tinggal di Padang tapi jarang2 beli ikan. Kalau dikatakan murah, yah ga juga sih tapi segernya ga ada yg ngalahin. Saya kalau nyampe pasar dan liat ikan yang cantik-cantik suka kemaruk mau beli semuanya.

Untuk pasar pilihan saya di Padang ini adalah Pasar Tanah Kongsi atau sering disebut juga Pasar Pondok atau Pasar Cina, karena letaknya memang di Pondok yang merupakan perkampungan orang-orang Tiongkok di Padang. Pasarnya ga yg luas-luas banget tapi semuanya ada, mulai dari serai sampe paprika, jeruk nipis sampai lemon, buncis sampe kapri, ikan asin sampai paket shabu, lengkaps! Justru memudahkan saya karena sy ga perlu terlalu jauh ngiterin apalagi kalau lg bawa Gaby. Sesekali sy ke pasar Simpang haru yang deket rumah kalau persediaan sayuran abis berhubung sayur kan ga terlalu tahan lama, jd biasanya di pertengahan minggu udah harus belanja lagi.

Karena udah lama belanja ke pasar ini, saya udah kenal dan berlangganan dengan beberapa pedagangnya. Jadi setiap ke pasar, saya akan datengin lapak satu per satu, pesen ini itu (mis : minta ikan dibersihin, ayam difillet, dll) trus sy tinggal dan saya lanjut ke lapak lain. Nah, belakangan baru sy jalan lg berlawanan arah sembari bayar dan bawa yang sudah sy pesen sebelumnya. Nah, di situlah beban terasa berat, belum lagi kadang Gaby udah cape trus merengek-rengek minta digendong. Saat itulah kehadiran Ibu Soleha yang biasa dipanggil Amak Leha ini terasa sangat menyejukkan hati dan meringankan beban, hahahha…

Awal-awal dulu sy kebingungan saat Amak Leha nyamperin saya. “Banyak belanjo nak? Amak bantu maangkek barang yo nak.. (Belanjaannya banyak nak? Amak bantu ngangkatin barangnya yah..)”, katanya. Saya terus terang memandang aneh, melihat dia sudah tua dan badannya kecil gitu. Trus sy jawab “Lai kuek amak? Barek mah Mak, ndak usahlah (Emang amak kuat? Berat ini Mak, ga usah aja lah)”. Tapi kemudian dia menjelaskan bahwa dia kuat dan sangat sennag kalau diizinkan membantu. Sekilas kalau orang melihat kok tega banget yah saya, tapi ahhh cukuplah saya dan Amak Leha yang tau.

Biasanya dengan senyumnya dia akan datang ketika dia melihat saya udah di ujung pasar, saya pun demikian. Seperti ada rindu yang lepas aja kalau melihatnya.Lalu sambil menyusuri kembali lapak-lapak tempat saya menjemput belanjaan, dia akan mengingatkan sy ini itu kali aja ada yang kelupaan. Entahlah karena dia udah terbiasa atau gimana, rasanya dia udah hafal banget kebutuhan pokok sy dalam perbelanjaan ini. Kadang-kadang dia yg ngomel kalau pedagangnya kasih harga kemahalan, hahahhahah..

Biasanya di jalan menuju parkiran mobil, kami akan ngobrol tentang dia dan tentang saya *cieee, kaya pacaran aja*. Dia mengeluhkan ongkos ojek yang semakin mahal, katanya dia harus mengeluarkan biaya Rp 15.000,- sekali jalan ke/dari pasar dari/ke rumah. Dia bilang dia suka sekali bisa bekerja karena dia merasa badannya semakin kuat dan badannya terasa segar. Dia bilang dia ga suka males2an di rumah. Biasanya saya akan kasih sedikit rezeki untuknya. Dan dia selalu mendoakan agar sy sehat terus, keluarga sy baik2 aja lalu memandangi mobil sy yang bergerak pulang sambil bilang : “Minggu bisuak lai yo nak (minggu depan lagi yah nak)”. Sekalipun sy banyak tidak tepat janji karena baru datang 2 minggu kemudian atau malah lebih, krn sy hanya sempat belanja di pasar dekat rumah.

Di foto di atas dia bilang sama sy bahwa dia malu difoto karena giginya udah ga ada, lalu kami tertawa bareng2.Amak Leha yang soleha, selalu mendoakan banyak orang, menasihati sy agar baik-baik ngurus anak, soleha sekali seperti namanya.

It’s very priceless

… ketika kita berusaha memberi yang terbaik untuk orang lain di tengah segala keterbatasan kita, dan kemudian tanpa kita sadari bagi mereka itu bermakna.

Minggu lalu sy tiba-tiba ditelepon untuk mengajar di luar kota, saat itu sebenarnya sedang sibuk-sibuknya dalam pekerjaan sy terkait adanya bencana. Belum lagi ternyata suami pun harus dinas ke luar kota juga. Duh, gimana dengan Gaby..

Tapi yah minta kekuatan aja dari Tuhan untuk menjalani semuanya. Gaby sy bawa trus titip di Jakarta di rumah opungnya, sy lanjut ke palembang sembari tetap melakukan pekerjaan saya yang terkait banjir. Rempong? Banget! Pusing? Yah emang menurut ngana engga! Lah sampe sekarang aja masih kerasa kok sisa2 tekanan selama menjalani itu.

Persiapan materi cukuplah bikin begadang, tapi puji Tuhan sy tetep gembira

IMG_8002

Puji Tuhan lagi kelas itu menyenangkan. Sekalipun sangat variatif baik berdasarkan usia maupun background pendidikan juga pekerjaan sehari-hari, para peserta cukup aktif dan mudah berbaur. Jelas sy sangat bersyukur.

Ketika sy akhirnya duduk di pesawat menuju Jakarta dengan release Bencana yang sudah diterima oleh kantor pusat dan nilai peserta yang memuaskan yang sudah diserahkan ke Udiklat, sy merasa sy sudah di puncak kelegaan tertinggi dengan kebahagiaan yang memuncak.

Tapi ternyata sy salah, karena saat pesawat sy landing di Padang, sy membaca ini dan hati sy meletup krn terlalu bahagia telah dipertemukan dengan orang-orang baik ini. Thx God!

Untitled

Sedikit Tentang Nana ( bukan nama sebenarnya )

Kita sebut saja namanya Nana yah. Pertama kali sy bertemu dengannya saat sy mengantar Gaby di hari pertamanya ke sekolah. Dari kejauhan sy sudah melihat ada sesuatu yang berbeda dengan Nana. Ketika saya mendekatinya, ternyata benar, dia unik karena dia Down Syndrome (DS).

Waktu itu sy sempat bingung dengan sekolah Gaby ini, gimana bisa membaurkan semua anak seperti itu. Bukan ga seneng kalau anak sy bergaul dengan penderita DS, sama sekali tidak. Cuma sy pikir kan anak begini perlu penanganan khusus yah. Baru kemudian sy menyadari bahwa di sekolah itu semua pendekatannya adalah pribadi ke pribadi. Lagian mereka ga diajarin calistung, hanya bagaimana berkehidupan sosial. Jadi malah semakin heterogen akan semakin bagus kan. Selain Nana, masih ada dua anak lg dengan keunikan yg mirip.

Nana adalah anak yang ceria. Dan entah kenapa dia mencuri perhatian sy. Selain Kiran yang adalah teman dekat Gaby, dan Jemy bocah bule perempuan yg selalu diantar jemput naik sepeda yg mana mommy nya naik sepeda besar dan dia mengikuti dengan sepeda kecil (sekalipun hujan lebat), Nana adalah anak yang cukup mencuri perhatian sy. Bukan karena dia DS, tp karena menurut sy dia sangat manis.

Kalau secara bentuk wajah, rata2 penderita DS memiliki kemiripan. Tapi Nana sangat manis karena setiap saat sy melihat dia (mungkin orang lain juga) dia akan tertawa atau senyum lebar sampai bola matanya tak terlihat lagi. Tawa/senyum itu tidak lepas sampai sy beranjak pergi. Sekali waktu sy mencoba menoleh ke belakang dan dia masih dengan senyumannya, hingga sy mungkin hampir tak terlihat lagi baru dia kembali dalam aktivitasnya.

Setiap pagi ayahnya yang luar biasa akan mengantarnya dan kemudian ayahnya juga yang menjemputnya. Menurut sy beliau memang luar biasa, tak sekalipun dia terlihat jenuh menghadapi Nana (sepenglihatan sy), padahal sy aja sesekali lelah rasanya menghadapi Gaby. Terkadang dia menggandeng Nana, di lain waktu dia menggendongnya. Dan sepanjang perjalanan mereka bercanda, keduanya terlihat tertawa, sangat mesra. Pernah sy memandangi sampai mobil mereka yang berkaca transparan berlalu, di dalam mobil pun mereka tertawa2 berdua.

Para Miss di sekolah juga kelihatan menyayangi Nana. Pagi2 ketika Nana datang mereka beramai2 menyambut dengan ceria, mungkin karena mereka tau sambutan mereka akan direspon hangat oleh Nana dengan senyum lebar. Saat pulang pun mereka melepas Nana dengan hangat. Sy tidak tau sudah berapa lama Nana bersekolah di sana, sepertinya sih sudah cukup lama.

Lalu bagaimana dengan Gaby? Dia selalu bahagia berteman dengan Nana. Seringkali siang2 sy jemput dia sedang menggenggam secuil kripik ubi ungu, hanya secuil. Saat sy tanya itu apa, dia jawab : Ini kripik dari Nana mami, Gaby ga mau abisin, mau simpan aja”. Di kesempatan lain Gaby bilang : “Ini dari Nana mami, Gaby mau kasih Cassie (anak kecil di tempat penitipan)”. Dan entah kenapa itu selalu secuil, sebesar mata ikan nila. Mungkin sebelumnya Gaby sudah makan bagian besarnya, lalu dia menyisakan entah karena apa.

Pernah juga saat mau tidur Gaby ngomong gini : “Mami, Gaby suka sekali sama Nana. Nana itu baik bgt lho mami. Gaby mau berteman terus dengan Nana karena Nana ga pernah nakal dorong Gaby”.

Sy jadi semakin penasaran bagaimana sih cara ayahnya yang selalu berseragam PNS itu mendidik Nana sehingga akhirnya Nana menjadi anak yang lovable. Ahhhh, mudah2an kamu selalu bahagia yah nak, tante jatuh cinta sama kamu *kiss*

kids_0

Gambar dari sini

 

Suatu Saat Mungkin Ku Ingat

bahwa pernah tengah hari yang hujan aku mengarahkan kemudi mobil ke jalan itu entah untuk apa, semakin aku jalani maka semakin segala rasa bermunculan di hati. Ketika tersadar aku sudah terlanjur berada di tengah, tak mungkin mundur sekalipun sulit untuk maju.

Suatu saat mungkin ku ingat, bahwa waktu itu aku sama sekali tidak menyalakan music player, namun lagu sendu terdengar jelas di telinga, mengalirkan nada sampai ke hati yang serta merta menjadi nyeri.

Suatu saat mungkin ku ingat, entah kenapa mataku menjadi panas dan tiba-tiba sudah tergenang air yang tidak pernah sempat menyentuh pipi karena segera kukerjapkan mataku hingga hanya membasahi sedikit bulu mataku. Aku tidak ingin menangis saat itu.

Suatu saat mungkin ku ingat, di ujung perjalanan itu dengan bodohnya aku memutuskan untuk mengulang kembali perjalanan itu. Kedua kalinya dalam satu waktu. Merasakan hal yang sama. Berhenti di tengah, mengerjapkan mata dan menelan perih. Apakah menyakiti hati sendiri itu indah?

img20170213142452

Posesif

Kebanyakan orang sih maunya posesif aja yah, tapi diposesifin ga mau. Kalau sy  posesif nya pas lg anget di hati aja. Misalnya sy punya barang baru yg masih disayang bgt, jangankan minjem, nyentuh pun orang ga boleh.

Demikian juga dengan hubungan. Beberapa kali sy berpacaran, kalau pas baru2 sy maunya pacar sy cuma fokus sama sy aja, ga ada yg boleh lebih dari sy even itu hobi basketnya, temennya, apalagi perempuan yg sy ga kenal tp ngakunya cukup deket dengan dia. Bukan krn cemburu atau takut kalah saing (jiaaaahhhh) sih ya, tapi lebih ke sy mau menikmati dia sendiri aja. Dalam beberapa waktu akan seperti itu sampai sy masuk dlm fase udah cukup puas menikmatinya sendiri, udah hafal kebiasaannya, udah tau jelek2nya, nah baru deh sy akan mulai berhenti posesif.

Tapi dalam hal anak, sepertinya posesif sy ga abis2. Sy mau selalu jadi yg no 1 di hati anak sy, sy mau dlm hal apapun anak sy lapor ke sy. PR bgt emang memanage perasaan ini agar ga mengganggu Gaby. Sy juga ga mau menimbulkan kesan dia dibatasin dalam tembok yg sy bangun.

Tapi untungnya Gaby jg sama, sy tak bertepuk sebelah tangan. Td malem sy lg nyemil cookies (ampuuun!), trus Gaby mau tidur. Seperti biasa, dia minta peluk2 gitu. Sy bilang dia tidur dl aja, tokh nanti kalau sy udah kelar sy akan berbaring di sampingnya dan memeluknya. Dia lalu memandangi sy dengan mata berkaca2. Tapi dia ga nangis, diem aja. Eh lagi gitu papinya mau ke kamar mandi, ngelewatin sy trus nyamber badan sy dibawa berputar2 gitu. Gaby kaget, trus dia langsung jerit nangis sampai banjir air mata. Sy kaget juga. Sy samperin dan nanya kenapa, dia bilang : Gaby ga suka papi gituin mami, mami peluk Gaby aja. Akhirnya dia memeluk sy erat sampai tertidur.

Nak, sampai besar lengket sama mami yah. Kaya opung Siantar (mama sy) dan opung tua (nenek sy) ini :

img_6941

Aku mauuuu..

IMG_20160309_170154Emang dasar yah anak kecil, gampaaaang bgt terkena pengaruh media. Gaby itu cepet banget meniru iklan yang dia tonton di TV. Untuk menonton tv kami emang sulit membatasi, yah nampun dititip anaknya. Yg bisa kami lakukan adalah mengimbanginya dengan membimbing Gaby sehingga dia punya pengertian yg benar. Sy sendiri suka merasa geli mendengarnya mencontohkan dialog iklan yg dia dengar di radio, di mana iklannya menggunakan bahasa lokal. Dia bahkan membawa2 dialog ini waktu kami ke Jakarta bulan lalu, opungnya sampe ketawa2 mendengar logatnya.

Menjelang Pekan Imunisasi nasional, kan sering banget yah iklan PIN itu diputer di TV dengan tagline “Aku mau “. Nah, gaby ini hafal banget sama iklan itu.

Waktu libur dalam rangka Hari Nyepi tanggal 9 Maret 2016 yang lalu, tentunya Gaby ga masuk sekolah, trus kami bingung mau bawa dia ke mana. Pas ditanyain, eh anaknya malah cuma punya kepengenan sederhana : main di KFC. Ternyata di KFC lagi ada club Chucky gitu. Jadi Gaby yg lg asik main perosotan dan manjat2 menghentikan semua kegiatannya dan duduk di tangga (seperti gambar di atas) dan serius banget memperhatikan anak2 yg lg pada unjuk kemampuan : nyanyi, menari, menggambar, mewarnai, dll. Trus dia bilang ke saya : “Mami, Gaby mau ke situ sama teman2”. Sy yah bingung dong, ini anak kan belum didaftarin. Trus sy bilang : “nanti yah nak, mami harus daftar dulu”. Taunya anaknya nangis sodara2. Mamaknya pun panik. Etapi sambil nangis dia bilangnya : “mami, aku mauuu.. aku mauuuu”. Kaya di iklan gitu. Sy yah jadi panik2 geli gitu. Anak iniiiii…

Ah tapi ternyata anak sy udah pengen banget sekolah ternyata yah. Tahun lalu mau dimasukin sekolah rasa gimanaaaa gitu krn usianya baru 2y6mos, tahun ini mudah2an keinginanmu bisa tercapai yah nak. Anaknya emang udah bolak balik ngomong : “Mami, Gaby mau sekolah TK aja. Trus sekolahnya pake sepatu sekolah, pake tas sekolah, pake baju sekolah. Seperti Nico lho mami.” Nah, ini kami lagi dalam proses pencarian sekolah. Ga banyak2 sih kriterianya, tp kriteria utamanya : yang membuat anak hepi dan tidak tertekan. Doakan yah Gaby dapat sekolah yg cocok.

Ngomong2 tentang imunisasi, sy kan ga ketemu2 jadwalnya Gaby imunisasi polio saat PIN lalu. Baru kepikiran pas Minggu siang di rumah bahwa di penitipan Gaby yg notabene adalah RS Bersalin dan ada klinik berobatnya kan biasanya melayani imunisasi. Trus sy bilang ke Gaby : “Gaby, Gaby ingetin mami yah besok biar ngomong ke suster utk tolong imunisasi Gaby”. Senin pagi yg as usual sy buru2 abis drop Gaby dan kiss, langsung cabut gitu aja ke kantor. Jam 9an susternya sms sy : “Bu, benar Gaby mau diimunisasi?” Huaaa,,ternyata anak aku ingeeet ajaaah.. Dia minta sendiri ke susternya, akhirnya susternya jd nanyain ibu2 anak2 lain, divaksin rame2 deh mereka hari itu,,hahhaha..

Gaby udah gede aja, kadang kalau dia udah tidur sy liatin dan berusaha mencari2 raut wajahnya waktu bayi dulu, ga percaya dia udah beranjak besar.. Thx God 🙂

Catatan Kecil Bahagia

Bagi sy itu bukan apa2, tp bagi dia ternyata istimewa.. Sy merasa Tuhan yg mengetuk pintu hati sy, bagi dia mungkin ini adalah jawaban doanya..

Sy tak akan lupa mata berkaca2 itu, mudah2an kelak di saat dia menjadi besar pun dia tidak lupa. Bukan tidak lupa bahwa sy pernah melakukan ini utk dia, tp tidak lupa bahwa dia pun pernah merasa susah sehingga dia membuka hati ketika orang lain dlm posisinya saat ini..

Di tengah lelahnya hati ini, ternyata ada setitik bahagia yg diizinkan utk sy nikmati.. Semangat yah Dik..

Tentang Perbedaan

perbedaan2Sumber : http://panganesia.com/wp-content/uploads/2015/09/perbedaan2.jpg

Saya punya temen yang sangat narsis dan sangat fanatik dengan dirinya sendiri. Tiap kali ada hal yang tidak sama dengan apa yang dia pikirkan dia akan ribut2 dan bikin sy pusing baca berbagai status atau hal yg dia share di akun2 sosmednya, hahaha..

Saya cuma berpikir apakah memang dunia ini akan jadi lebih indah bila diisi dengan satu warna saja. Apakah bila isi otak manusia seragam apakah memang dunia ini akan lebih baik. Tp sy pikir2, rasanya yah tidak juga.

Menurut sy kalau ada ibu yang memutuskan untuk tidak bekerja, yah sudah nikmatilah keputusan itu, jalani sebaik2nya, ga usah ngerecokin yg memutuskan untuk bekerja. Demikian pula sebaliknya. Kalau ada ibu yang memutuskan untuk memberi ASI, silakan menyusui anaknya dengan segala pengetahuan yg dia miliki, ga perlu ngerecokin ibu2 yg memutuskan untuk tidak memberi ASI pada anaknya. Yah kalau dengan bekerja atau memberi ASI si ibu merasa puas lalu berbangga hati di sosmed dengan status2 atau sertifikatnya, yah biarkan saja, tokh itu adalah prestasi baginya. Asalkan dia tidak menghakimi ibu lain dengan keputusan yg lain. Begitupun dengan ibu yg memilih menjadi SAHM, biarkan saja bila dia memposting foto2 dia melatih motorik anaknya tanpa bantuan orang lain sambil ditambah caption “sy puas bisa melakukannya sendiri, sy tidak salah memutuskan untuk tidak bekerja” asal jangan ditambah embel “para working mom tidak akan bisa mendidik anaknya sebaik yg sy lakukan”.

Berjalanlah dengan keputusan masing2 dengan sebaik2nya. Sy memutuskan untuk memeluk agama Kristen, sy akan menjalani sebaik2nya sesuai dengan kepercayaan sy. Sy mau posting ayat Alkitab apapun yah suka2 sy, selama sy tidak menjelek2kan agama lain. Harapan sy sih teman2 sy juga ga usah melecehkan agama lain, tp kalau mau posting ayat apapun atau pengetahuan2 keagamaan apapun yah monggo2 aja.

Demikian pula dengan hal lainnya sejenis

  • Anda memutuskan untuk memakai lipstick nude dan orang lain menyukai merah (silakan pakai lipstick nude mu tp tdk perlu berkomentar “isssh, lipstick merah itu sok eksis” sementara orang itu diam saat dia bisa saja berkomentar “isssh, nude itu tidak menggairahkan”)
  • Anda memutuskan untuk memakai baju tertutup, sementara orang lain pake rok pendek
  • Anda memutuskan untuk masak sendiri, sementara orang lain lebih suka beli makanan di luar
  • Anda memutuskan utk enyek2, sementara orang lain mau blak2an aja (yah saat anda berkomentar mulutnya perlu dijaga bisa aja orang lain muntah2 melihat anda seperti penjilat)
  • dll

Kita tidak pernah tahu kenapa orang lain mengambil suatu keputusan, jangan sok tau. Di saat kita menghina orang lain dengan pilihan yg dia ambil, bisa saja dia pun sedang menghina kita dengan pilihan yg kita ambil. Selama tersimpan dlm hati sih buat sy yah ga masalah, tp kalau sampai diumbar2 ke media sosial trus cari2 dukungan, nah di situ rasanya sy yg baca pengen ngulek mulut orangnya. Yah maap, abis hidup orang lain kan bukan tentang anda dan keputusan yg anda pilih, hehehe..

Mulut

Saya selalu heran dgn orang yg suka komentar ngasal. Kasarnya mulut asal kentut aja.

Kemarin sy menerima email dari big boss utk kirim berita yg beliau tulis sendiri ke beberapa harian lokal. Malam2 sy terima email dan dihubungi via WA, trus sy hubungi atasan sy tp ga diangkat2 (pada akhirnya dia nelp sy dan sy sudah jelaskan, dia oke2 aja). Long story short, kemarin terbitlah berita itu di koran, dan krn sy kirim berita menggunakan attachment di email sy yg ada signature nama sy, ada satu koran yg menulis nama sy dlm pemuatan berita. Hari ini, pagi2 sy dipanggil atasan sy dan bilang ada beberapa orang yg protes lalu berkomentar krn nama sy muncul di berita. Sy mendidih.

Pertama, udah syukur sy malem2 mau bujuk2 itu para redaktur media utk mau muat berita (dan ini terjadi di hari Minggu). Kedua, sy tidak pernah menulis nama sy sendiri dlm berita (kalau orang pintar dia harusnya cek bahwa tulisan yg sama muncul di koran lain, yg tidak ada nama saya. Jd itu hanyalah kerjaan orang media). Ketiga, yg menulis itu sepenuhnya big boss, jd kalau mau nyalah2in isi berita silakan salahkan big boss. Paling jg klo yg komentar itu tau bahwa itu tulisan big boss yg dia lakukan adalah memuja2 dan kasi jempol utk tulisan. Tp krn mereka pikir itu tulisan Emmelia Tobing, kejadian deh mulut kentut tadi.

Mudah2an yg baca tulisan ini mulutnya dipake utk ngomong yg bener yah, bukan buat kentut.